Thursday, May 19, 2016

Sumba Timur, Afrika Tanpa Singa



Oktober 2011
3 hari semenjak kedatangan di NTT, gue ditugaskan ke Sumba Timur selama 18 hari. Tapi sayang banget waktu itu gue gak leluasa buat mengeksplor keindahan dan keunikan Sumba Timur. Gue pegawai baru dan belum terlalu kenal sama tim, dan masih sedikit informasi yang gue tau tentang Sumba Timur.

The biggest "babi" i've ever seen
Kontur Sumba Timur adalah perbukitan dengan pohon yang sedikit, didominasi oleh padang rumput. Bulan Oktober adalah masa paling kering di NTT. Sumba Timur sangat kering dan rerumputan berwarna kecoklatan. Saat menuju lebih ke pelosok lagi, banyak dijumpai ternak sapi, kerbau, dan kuda di perbukitan yang dibiarkan liar oleh pemiliknya.
Konon jaman dahulu, ternak jauh lebih banyak lagi. Satu orang warga bisa punya ratusan bahkan ribuan ternak. Wah, gue jadi bayangin kondisi Sumba Timur jaman dulu mungkin kaya Serengeti kali ya dimana ribuan wildebeast, kerbau liar, dan hewan lainnya berkumpul nyari makan bareng. Minusnya cuma gak ada predator macam singa aja nih😀

Selain hewan-hewan di padang rumput, di perumahan penduduk lu bakal nemuin hewan ternak lainnya yang gak kalah gokil. Paling sering gue temuin sih babi, which is gak akan lu temui di perkampungan warga di Jawa,😀 ..
Takjub gue liat babi-babi kecil yang berlarian di halaman. Sedangkan yang udah gede dikandangin. Ya walau ada juga yang dibiarin bebas di daerah yang lebih terpencil. Harga babi disini mahal-mahal lho, harganya bisa sama kaya sapi.
Anjing juga bakal lu temuin dimana-mana. Tapi hati-hati banyak juga yang galak. Saran gue kalau lu kebetulan papasan sama anjing di jalan, bersikap cool aja, pura-pura gak tau, dan jangan liat matanya. Gonggongan mereka sebenernya gertakan doang. Gue pernah pas bawa motor, eh ada anjing ngejar, dekeeeet banget ke kaki gue tapi tu anjing kaga gigit. Sialan, cuma dikerjain doang rupanya, gara-gara gue panik pas dia menggonggong pertama kali.
Februari 2013

Gue berkesempatan berkunjung lagi ke Sumba Timur di bulan Februari tahun 2013. Pemandangan yang gue liat kontras dengan apa yang gue liat bulan Oktober 2011. Maklum, Februari udah masuk musim penghujan. Padang rumput yang sebelumnya terlihat gersang dan berwarna kecoklatan, sekarang berwarna hijau, lagi ranum-ranumnya tuh rerumputan. Tapi tetep sih pohonnya mah tetep dikit. Padang rumput yang hijau gini mengingatkan gue sama Shire, desanya Frodo Baggins, :p . Cuma di sini gak terurus layaknya di Shire.
Sama seperti dulu, gue pun gak sempet explore lebih jauh, sekarang karena waktu penugasan yang cuma 5 hari. Tapi syukurlah ada sedikit waktu buat sekedar refreshing sebentar ngeliat pemandangan. Cuma, ntah kenapa sapi yang gue liat di padang rumput gak sebanyak yang gue liat bulan Oktober 2011,😦 .
gerombolan kuda sandalwood
Melipir ke daerah pantai, ada segerombolan kuda sandalwood yang berjalan di pantai beserta gembalanya. Tiap kali gue deketin, kuda-kuda itu kabur menjauh. Ada yang lucu diantara kuda-kuda itu, ada yang birahi broooo,, dan OMG panjang beneeeerrr, huahahaha…
whooaaaaa
Oya, kuda sandalwood ini adalah kuda khas Sumba. Di waktu-waktu tertentu sering diadain pacuan kuda di Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur. Gue sempet nonton satu kali pas final, dimana si black lady yang diunggulkan ternyata cuma menempati posisi kedua. Konon katanya kuda betina yang sering menang di pacuan kuda disini. Kenapa? Karena si jantan pasti gak mau mendahului si betina. Wakakakak, gak di dunia manusia aja, di dunia kuda pun ada golongan jantan takut betina huahaha..




Sumba Timur, baru sedikit banget yang gue jelajahi disini. Semoga suatu saat berkesempatan dateng kesini lagi, banyak pantai indah yang belum didatengin nih😦

No comments:

Post a Comment