Wednesday, June 1, 2016

Kembali ke Jaman Megalitikum di Kampung Bena

tempat wisata NTT, tempat wisata Flores

Februari 2012…

Sudah sekitar 2 minggu gue, Pak Zen, dan Pak Tavip berada di Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Tapi selama itu pula rutinitas kami hanya hotel-kantor client-hotel, begitu seterusnya. Di akhir pekan yang kedua, Gue dan Pak Zen berencana untuk jalan-jalan sedikit keluar dari kota kecil nan indah ini. Berbekal informasi yang diperoleh dari Fian, petugas hotel Edelweiss, akhirnya gue dan Pak Zen memutuskan kampung Bena sebagai tujuan jalan-jalan kami kali ini. Kok Pak Tavip gak diajak? Udah diajak, tapi bapaknya emang gak seneng jalan-jalan, hehehehe..



Selain ketua tim tetap gue, Pak Zen adalah partner traveling gue di sela-sela kesibukan pekerjaan. Pak Zen tipe orang yang santai dan asik diajak jalan-jalan, tapi pekerjaan pasti beres tepat waktu. Cocok lah gue sama pak Zen ini,, partner di kerjaan, partner juga di traveling…

Selain kampung bena, sebenarnya ada lagi destinasi berlibur yang keren di Kabupaten Ngada ini, apalagi buat penyuka pantai dan underwater,, beeeeuuuuh surga brooo… Mungkin banyak juga yang udah tahu, namanya Taman Laut 17 Pulau Riung. Menurut teman-teman yang udah ke sana sih, keindahan di Pulau Riung ini bisa disetarakan dengan keindahan di pulau Komodo. Tapi perjalanan kesana juga cukup jauh dari Bajawa, sekitar 2-3 jam perjalanan. Karena keterbatasan waktu inilah, Pulau Riung kami skip untuk kali ini.

Tulisan sebelumnya: Sejuknya Air Terjun Oenesu

Minggu pagi tiba, udara dingin dan kabut langsung menyambut siapapun yang terbangun di pagi hari di kota ini. Kelar sarapan pancake, gue sedikit bersantai di balkon lantai 2 hotel edelweiss. Lokasi yang sangat tepat untuk menikmati keindahan gunung Inerie dari kejauhan. Perlahan, kabut yang menutupinya menghilang sehingga tampak gunung yang lancip seperti di lukisan-lukisan legendaris jaman SD. Sekitar jam 7 WITA, gue dan Pak Zen mulai bersiap untuk memulai petualangan ke kaki gunung Inerie. Ya, di kaki gunung yang indah itu, terhampar kampung adat yang terkenal itu, Kampung Bena. Anyway, pancake pisangnya enaaaaak. :p

Berbekal motor sewaan, berangkatlah gue dan Pak Zen menyusuri jalanan Kabupaten Ngada. Jalanan di sini sangat mulus, sangat cocok buat pecinta turing. Beberapa hari sebelumnya, datang rombongan Harley Davidson yang melakukan turing ke kota ini. Ada yang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Ada belasan atau mungkin lebih dari 20 motor yang datang kesini. Tentang jalanan di Flores ini, mereka bilang jalannya sangat bagus, dihiasi pemandangan yang memukau sepanjang perjalanan, walaupun beberapa ada yang longsor dan sedikit berlubang.

tempat wisata NTT, tempat wisata Flores
Fian memberikan petunjuk untuk mengambil arah ke Ende lalu berbelok ke arah kiri saat ketemu persimpangan. Sesampainya di persimpangan, gue bertanya ke warga sekitar untuk memastikan bahwa jalan yang kami pilih adalah jalan yang benar menuju ke Kampung Bena. Setelah mendapat kepastian, perjalanan kami lanjutkan kembali. Setelah persimpangan ini, jalanan yang kami lalui lebih sempit dibanding jalan Trans Flores. Tapi yang gue takjub adalah kualitas aspalnya yang lagi-lagi membuat para pecinta turing bakalan betah bertualang di sini. Apalagi pemandangan yang menemani di sepanjang perjalanan benar-benar menakjubkan. Jalanan mulai menanjak dan gunung Inerie semakin terasa mendekat. 

Rumput-rumput yang hijau menyegarkan mata sepanjang perjalanan. Ada satu lokasi favorit gue di jalanan ini, dimana pohon-pohon bambu di kiri dan kanan jalan saling menyilang memayungi jalan sehingga membuat paparan sinar matahari berkurang, teduh dan menyejukkan, juga terlihat indah. Dari kejauhan, Kampung Bena semakin terlihat. Oya sebelum sampai di Kampung Bena, kami juga sempat menjumpai beberapa rumah adat khas Ngada tapi jumlah rumahnya sedikit.

tempat wisata NTT, tempat wisata Flores
Sekitar 30 menit perjalanan telah kami tempuh dan sampailah kami di tujuan wisata kami kali ini, Kampung Megalitikum Bena. Rumah-rumah adat yang berjejer rapi menyambut kami dan batu-batu berukuran besar berdiri dengan gagah di tengah-tengah komplek pemukiman tradisional ini.

Sebelum kami melihat-lihat lebih jauh, kami diarahkan ke Posko Informasi. Di sini, kami mengisi buku tamu dan memberikan sejumlah uang seikhlasnya untuk biaya perawatan kampung tradisional ini. Setelah urusan di sini beres, langsung kami bergegas mengeksplor lebih jauh kampung yang masih dilestarikan originalitasnya ini. Sebelumnya tak lupa mengambil foto di dekat “pintu” kedatangan.
pic nyomot dari Kompas Travel
Sambil terus berjalan menuju tempat teratas di kampung ini, gue perhatikan sekeliling. Di rumah-rumah tradisional ini, terlihat beberapa warga sedang sibuk menenun kain. Ya, memang NTT ini terkenal dengan kain tenunnya. Bahkan tiap daerah memiliki motif tersendiri yang masing-masing memiliki keunikan yang mencerminkan daerahnya.
Kalau menenun dilakukan oleh para ibu, lain lagi aktivitas yang dilakukan bapak-bapaknya. Saat gue berkunjung, beberapa sedang memilah biji kopi. Kabupaten Ngada juga terkenal akan kopinya. Bahkan kopinya telah mendunia. Di beberapa gerai Starbuck, mungkin lu bakal nemuin kopi Bajawa ini, cobain deh, rasanya enaaaaak.

tempat wisata NTT, tempat wisata Flores
Sedangkan anak-anak kecilnya terlihat asik bermain dengan teman sebayanya. Beberapa wisatawan juga terlihat di kampung adat ini. Anehnya, semua wisatawan yang gue lihat saat itu adalah wisatawan asing. Beberapa bule, beberapa lagi Jepang. Wisatawan lokal saat itu cuma gue dan Pak Zen.
Berjalan semakin ke atas melewati rumah-rumah adat, akhirnya sampailah gue di bagian teratas dari perkampungan adat ini. Dari sini, terlihat jelas barisan rumah-rumah adat Kampung Bena. Terlihat berjejer rapi dengan background alam Flores yang hijau.

Di kampung ini banyak terdapat batu-batuan berukuran besar yang merupakan peninggalan jaman megalitikum. Di tengah perkampungan terdapat batuan yang biasa digunakan masyarakatnya untuk memotong hewan. Selain itu juga terdapat batu-batuan besar yang tidak digunakan masyarakat.

tempat wisata NTT, tempat wisata Flores
Di belakang perkampungan ini berdiri kokoh gunung Inerie yang dari hotel terlihat begitu menawan. Masyarakat di sini bilang bahwa biasanya banyak bule yang melakukan trekking ke gunung itu di pagi hari, bahkan ada juga yang menginap.

Setelah puas menikmati pemandangan di sekitar perkampungan, gue dan Pak Zen memutuskan untuk kembali ke hotel karena waktu makan siang sudah dekat. Sampai di parkiran motor, ternyata sudah datang lebih banyak lagi wisatawan, dan semuanya wisatawan asing. Hmmm,, waktu itu memang Bena belum begitu populer di kalangan wisatawan lokal sehingga wisatawan lokal mungkin banyak yang belum mengetahui tempat yang magical ini.

tempat wisata Flores, tempat wisata NTT


tempat wisata flores, tempat wisata NTTDi perjalanan pulang, gunung Inerie yang sebelumnya terlihat samar karena tertutup oleh kabut, kali ini menunjukkan kegagahannya dengan jelas. Kesempatan ini gak gue sia-siakan untuk berfoto, sebagai kenang-kenangan dan bukti bahwa gue pernah berdiri di kaki gunung Inerie yang sangat indah. Sekitar setengah jam kemudian, gue sudah sampai di Kota Bajawa. Kota kecil nan sejuk dan asri yang bikin gue betah tinggal di sini. Ditambah hotel Edelweiss adalah hotel favorit para bule yang transit menuju ke Ende dari Labuan Bajo atau sebaliknya. Gue suka ngajakin mereka ngobrol, selain bertukar informasi, sekaligus mengasah skill bahasa inggris gue. Karena kata orang, practice makes perfect, apalagi kalau praktik dengan native speaker, lebih-lebih kalau si bulenya cewe, seruuuu hahaha..

Tulisan berikutnya: Senja Syahdu di Pantai Tablolong



No comments:

Post a Comment