Friday, February 24, 2017

Pulau Pamutusan, Pulau Unik Secantik Gadis Minang yang Menawan Hati



Deru mesin kapal berhenti seraya seorang pemuda mematikannya, berganti kayuhan, merapat menuju dermaga kayu. Di depan mata tampak pulau yang sangat unik, mungkin terunik yang pernah gue kunjungi. Dibilang pulau, memang pulau, dibilang bukan pulau juga memang bukan pulau. Unik, cantik, dua kata yang pas untuk menggambarkannya. Unik, karena sebenarnya pulau kecil ini masih bagian dari pulau Sumatera. Namun saat pasang, ujungnya akan terbelah oleh air sehingga nampak seperti pulau kecil tersendiri. Itulah kenapa dinamakan Pulau Pamutusan. Cantik, karena pulau ini dikelilingi air laut dengan gradasi warna yang menyejukkan mata, dengan hiasan butir-butir pasir putih yang halus, dan semakin sempurna dengan keberadaan bukit kecil di tengahnya. Cantik sekali, secantik gadis-gadis minangkabau.



Yepp,, i miss beach..

Rindu akan pantai kembali menyeruak, baru 3 minggu padahal setelah perkenalan gue dengan pulau-pulau kecil di Sumatera Barat. Gue kemasi barang-barang dan kembali datang ke kawasan bahari di batas Kota Padang dan Pesisir Selatan ini. Kali ini khusus untuk mengunjungi pulau pamutusan yang sempat menjadi rencana awal destinasi pada kunjungan pertama, yang akhirnya gagal karena suatu hal.

Pulau Pagang di seberang lautan

Pulau Pamutusan ini berlokasi tepat di depan Pulau Pagang. Jauh dari "peradaban". Dari pulau ini, terlihat jelas Pulau Pagang yang tak kalah cantik.

Seperti kedatangan pertama, kali ini pun gue memilih Sei Pisang daripada Bungus sebagai titik menyeberang. Alasannya simple, karena disini tarif kapalnya lebih merakyat dan feel backpacker nya lebih dapet, aiih backpackeeeer coy.. Namun kali ini gue kemari bukan dengan si Esfi (Satria FUFI), melainkan bareng hatchback tangguh si Boggil (Hyundai Getz). Gue putuskan pake si Boggil karena saat pertama kali kesini, ternyata ada Yaris yang sanggup melewatinya. Ah kalau Yaris bisa, si Boggil pasti bisa juga :D ..



View yang disuguhkan di sepanjang perjalanan dari Kota Padang ke Bungus sangat indah. Di sebelah kiri bukit, di sebelah kanan laut. Perjalanan naik turun menyusuri bukit, berkelok-kelok, pemandangan pertemuan antara bukit dan laut juga terlihat cantik di kejauhan, Teluk Bayur yang terkenal itu menjadi titik pertemuan keduanya. Tapi di sini kita harus ekstra hati-hati juga dengan medan jalanan. Lobang jalan yang menganga sudah semakin berserakan di mana-mana, longsor yang menghantam dari sisi bukit juga sewaktu-waktu bisa terjadi, apalagi saat musim penghujan.

Melewati daerah Bungus, mulai banyak terlihat berbagai operator wisata perjalanan ke pulau di kiri kanan jalan. Perjalanan gue lanjutkan sampai dengan plang PLN di sebelah kanan setelah jembatan kecil. Hanya 7 km untuk sampai ke Sei Pisang, tapi waktu tempuh bisa 1 jam karena kondisi jalanan. Medan yang rusak parah, naik turun dan bertepikan jurang membutuhkan keekstrahati-hatian kita.

Bernegosiasi

Sesampainya di Sungai Pisang (atau Sei Pisang), gue segera mendatangi rumah bapak pemilik kapal yang dulu mengantarkan gue ke Pasumpahan dll. Walaupun dulu sempat kecewa, tapi gue berniat untuk menggunakan jasanya sekali lagi. Tapi alangkah kaget gue ketika harga yang ditawarkan ternyata lebih mahal dibandingkan saat gue datang pertama kali. Padahal waktu itu 3 pulau yang gue datangi, sedangkan kali ini cuma 1 saja. Kok bisa sih?

Nggak puas dengan tarif yang ditawarkan, gue mencoba peruntungan ke pemilik kapal lainnya. Di tempat lain, gue dapatkan harga 350k, lebih murah 50k dari tawaran pemilik kapal sebelumnya. Ini pun sebenernya masih gue rasa kemahalan kalau dibandingkan dengan perjalanan pertama gue. Karena dengan tarif yang sama, jumlah pulau yang dikunjungi 3 banding 1. Alasannya karena wisatawan sedang sepi, jadi untuk menutup biaya operasional kapal, tarif membumbung tinggi. Tapi ada keuntungan lain dari penyedia jasa kapal yang ini, gue dan Ayu dipinjami 2 set alat snorkeling beserta pelampung.

Sebenernya kalau ikut Open Trip, jatohnya bakal lebih murah. Contohnya untuk ke Pagang atau Pamutusan saja per orang sekitar 70-80 ribu.

Sebelum bertolak menuju Pamutusan, gue sempatkan makan siang dulu. Ingat bro, di pulau adanya cuma jualan mie.. :D ..

Perjalanan dimulai dengan beberapa penumpang lainnya. Memang, sepertinya saat ini lebih sepi dibanding sebelumnya. Sesampainya di Pasumpahan, semua penumpang lain turun, dan kini hanya gue dan Ayu yang lanjut ke Pulau Pamutusan.

SAMPAAAAAI !!!!

Setelah perjalanan selama sekitar 30 menit dan melewati pemandangan pulau dan perbukitan Sumatera, gue sampai di Pamutusan. Mungkin bukan terindah, tapi ini pulau terunik yang pernah gue singgahi. Namanya mencerminkan keunikan pulau kecil ini. Pulau ini di saat air laut surut akan menyatu dengan pulau Sumatera. Sedangkan saat air pasang maka menjadi satu pulau tersendiri, putus dari Sumatera, itulah kenapa dinamakan Pulau Pamutusan. Saat sedang putus pun, kita masih dapat menyeberang ke pulau Sumatera karena selatnya hanya pasir yang sedikit tertutupi air laut.


Pulau Pamutusan ini hanya memiliki sedikit pantai. Pasir putihnya lembut. Sedangkan bagian terbesar pulau ini adalah bukit penuh pepohonan yang langsung membentuk tebing ke laut. Medan yang harus dilalui untuk sampai di puncak bukit nggak seekstrim di bukit pulau Pasumpahan.



Saat air surut, ada "goa" kecil di sela-sela batu karang yang bisa dimasuki sekedar hanya untuk duduk-duduk atau santai sejenak. Saat air pasang, ruang tersebut terisi air.

Sarang harimau :V
Hari sedang terik-teriknya saat gue sampai di pulau ini. gue segera mencari spot buat mendirikan tenda di areal perkemahan yang cuma seiprit, jauh lebih kecil dibandingkan dengan camping area di Pulau Pasumpahan. Pengunjung pun jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Pulau Pasumpahan. Mungkin, pertama karena di sini lebih jauh dari peradaban, kedua karena tarifnya lebih mahal, dan terakhir di sini enggak ada wahana air seperti banana boat dan lain sebagainya. Pulau Pamutusan lebih cocok buat para pecinta alam sejati khususnya pantai/pulau. Pulau Pasumpahan asik buat seru-seruan dan buat mereka yang bawa anak-anak kecil.

Bila ingin menginap tapi enggan memakai tenda, di Pulau Pamutusan juga terdapat beberapa kamar yang disewakan. Ada juga kamar unik yang dibangun di atas pohon.. Udah pulaunya unik, penginapannya juga unik :D .. Tapi maaf dulu nggak sempat tanya-tanya tarif per malamnya..

rumah pohon


Kalau ingin diramal, tinggal datang ke satu kios dekat penginapan yang menyediakan jasa ramal pake tarot.. Haha,, beach life yang seru banget di sini..

Mendaki Dulu Kita

Hal pertama yang gue lakukan setelah mendirikan tenda adalah mendaki bukit pulau pamutusan. Medannya nggak terlalu terjal, mudah didaki, beda dengan bukit pulau Pasumpahan yang membutuhkan effort yang lumayan buat mencapai puncaknya yang memang lebih tinggi. Sepanjang perjalanan, banyak dijumpai monyet-monyet yang bergelantungan kesana kemari di hutan kecil di bukit pulau ini. View dari atas bukit terlihat amazing!! Tampak pulau Pamutusan seperti ekor dari pulau Sumatera, tipis dan memanjang.

view dari puncak bukit pamutusan, terlihat pulau pamutusan yang memanjang

Santai Kaya di Pantai

Selepas berjalan-jalan menikmati pemandangan, gue ikatkan hammock diantara 2 pohon kelapa dan bergelayutan manja sembari menunggu matahari pulang. Sebenernya di pulau ini juga udah disediakan hammock, tapi bikin sakit badan soalnya hammocknya yang dari tali temali :D ..


selow kaya di pulau
Matahari telah kembali ke peraduannya, bertepatan dengan bunyi keroncongan dari dalam perut. Pilihan satu-satunya di sini hanya mie goreng. Namun terasa nikmat di saat serba terbatas seperti ini. Selepas makan, gue dan Ayu menuju pondok di pinggir pantai menikmati suasana malam yang syahdu. Di pondok ini disediakan pula colokan listrik untuk kita-kita, generasi yang tak bisa lepas dari gadget. Listrik dialirkan dari genset yang hanya akan menyala di jam-jam tertentu, biasanya selepas maghrib sampai larut malam. Hal seperti ini seperti oase di padang pasir nan tandus buat generasi gadget :D ..

Di tenda sebelah ujung, para pemuda usia kuliah sedang asyik bernyanyi diiringi petikan gitar. Ah, sejujurnya gue iri. Saat seusia mereka, gue terlalu introvert sehingga melewatkan banyak kesempatan untuk seru-seruan bareng temen-temen. Saat ada ajakan teman-teman buat main ke kepulauan seribu, selalu gue tolak. Ah elu bro, masa muda lo isinya internetan mulu di kamar, streaming "film" :V..

Salah seorang diantara mereka datang ke pondok untuk mengisi kembali baterai handphonenya yang mulai sekarat. Membuka percakapan, doi menawarkan makanan yang sedang disantapnya. "gue dan temen - temen suka ke pulau bang, kalau gue dan beberapa temen senengnya mancing, yang lainnya paling seru-seruan di pantai aja, nyanyi-nyanyi, snorkeling." Tak lama, 2 orang temannya yang sedari tadi memancing ikan di dermaga, kembali ke daratan membawa beberapa ikan. Mereka berniat bakar-bakar ikan malam itu juga, menghabiskan malam yang indah bersama teman-teman seperjuangan.

Hari semakin malam sehingga gue harus menyudahi bertukar cerita dengan mahasiswa tersebut dan kembali ke tenda masing-masing. Saat gue udah sayup-sayup memejamkan mata, anak-anak muda itu masih asik dengan nyanyian malamnya, menjadi pengantar tidur, meninabobokan mengantar ke alam mimpi. Dengan beralaskan matras, serta berdindingkan dan beratapkan kain tenda, gue pun tertidur pulas malam itu..

WUUUUUUUSSSSSSSSSS

Tersentak kaget, gue dan Ayu terbangun dini hari, angin bertiup dengan sangat kencang seperti ingin menerbangkan segala sesuatu yang dilewatinya. Suasana malam yang sunyi tiba-tiba dihebohkan dengan hembusan angin kencang. Bunyi gemuruh yang dihasilkan semakin kencang. Suasana yang sunyi tiba-tiba berubah mencekam. Kami hanya terdiam, terpaku di dalam tenda sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Syukurlah beberapa saat kemudian angin kembali normal. Fiuuuh.. Gue keluar tenda untuk melihat situasi sekitar, dan ternyata banyak para pengunjung lainnya yang juga terbangun dan memeriksa kondisi di luar.

Situasi mulai aman dan gue kembali masuk ke "Sarang Harimau" lalu berselimut sleeping bag. Oya, tenda dan peralatan lainnya gue sewa dari tempat penyewaan dan jual beli peralatan outdoor bernama Sarang Harimau. Di tenda yang gue sewa, tertulis dengan jelas nama "Sarang Harimau" sehingga bikin orang-orang yang kebetulan lewat dan membacanya cekikikan sambil berceloteh karena ada sarang harimau di pantai :V .. Duh malu-maluin aja wkwk..

Pagi Datang, Saatnya Main Air

Matahari kembali bangun dari tidurnya seraya memisahkan kelopak atas dan bawah mata gue. Gue menggeliat seperti kucing, lalu memulai aktivitas.. Gue awali pagi dengan sarapan roti yang gue bawa dari Padang, lalu bermain air.

Inilah kenapa dinamakan Pamutusan

Pagi itu, Pulau Pamutusan terlihat sedang dalam proses membelah diri dari pulau Sumatera, pasir putih yang yang menggabungkan keduanya perlahan tertutup oleh air laut yang naik dari kedua sisi. Semakin lama , air semakin naik dan akhirnya bertemu.



Gue dan Ayu menuju dermaga untuk melakukan aktivitas snorkeling, terlihat beberapa anak muda telah nyebur duluan sambil bersenda gurau. Air lautnya sebenarnya cukup jernih, tapi karena saat itu langit agak mendung, jadi keindahannya kurang terlihat. Ikan-ikan di sekitar dermaga nggak terlalu variatif, begitu juga terumbu karangnya. Sesekali terlihat gerombolan ikan kecil berenang bersama. Sedangkan ubur-ubur besar santai berenang sendirian.

Selepas snorkeling, gue segera ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Ada beberapa kamar mandi yang kondisinya cukup memprihatinkan. Arnya lebih keruh daripada di Pasumpahan, namun tidak berbau. Beberapa anjing, besar dan kecil, terlihat sering mondar-mandir di sekitar kamar mandi. Gak usah khawatir, mereka nggak galak kok.

Pulaaang

Matahari semakin naik ketika kapal datang menjemput. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, rasanya gak sia-sia gue datang ke pulau ini.. Dari 4 pulau di Padang yang pernah gue kunjungi (Pasumpahan, Suwarnadwipa, Pagang, dan Pamutusan), pulau Pamutusan ini lah yang menjadi favorit gue.



Sesampainya di Sungai Pisang, gue sempatkan makan siang dulu sebelum bertolak ke Kota Padang. Di perjalanan pulang, gue dihadapkan kondisi jalan yang becek, longsor dan pohon tumbang di beberapa titik akibat hujan. Jalanan menyeramkan, dengan sangat hati-hati gue jalankan si Boggil. Kondisi terparah adalah pohon-pohon tumbang yang menutupi sebagian jalan dan hanya pas 1 mobil. Akhirnya rintangan dapat diatasi, dan perjalanan pulang dapat dilanjutkan dengan nyaman.

--------------
Tips perjalanan ke Pulau Pamutusan (dan pulau-pulau lain di sekitarnya)
1. Usahakan rombongan agar biaya lebih murah. Kalau hanya jalan sendiri atau berdua, lebih baik ikut open trip. Untuk pulau terjauh, biasanya hanya 70-80 ribu PP / orang.
2. Persiapkan bekal makanan dan minuman sebelum menuju pulau. Di pulau hanya ada jualan mie goreng / pop mie. Gue biasanya beli cemilan, makanan besar, dan Aqua botol besar. Beberapa rombongan malah bawa aqua galon, biar cukup buat rame-rame :D ..
3. Bila ingin murah, lewat Sungai Pisang. Tapi lebih jauh dari Padang dan jalanan ekstrim. Ke pulau pun lebih cepat.
4. Bila ingin nyaman, lewat pelabuhan Bungus saja. Tapi perjalanan di kapal menuju pulau lebih lama.
5. Bila ingin murah, bawa aja tenda. Kalau gak punya tenda, di Padang banyak yang sewain.
6. Bila ingin nyaman, ada penginapan di tiap pulau.






12 comments:

  1. warna lautnya sumpah langsung bikin pengen jebur

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, segera kemasin barang2 trs pergi ke laut :D

      Delete
  2. Kali ini bener kubilang tempat ini ciamik cuma ini lagi pas banyak mendung ya bar? Kalau pantai begitu paling keluar warnanya kalo pas panas terik.. btw gak nunggu sunset di sini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, mendung terus huwaaaaa... sunset??? wah pas sunset bersembunyi di dalam sarang harimau mas :V

      Delete
  3. surga banget deh pasir dan lautnya yg biru ciamik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang nih, bikin gak bisa move on :D

      Delete
  4. duhhh.. pengen banget nih main ke pulau di Sumbar.. selama ini cuma explore mainland aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. pulau2nya wajib didatangi juga, terutama kepulaun mentawai hehe

      Delete
  5. pasirnyaa mantap kali. btw agak baper liat foto terakhir *jomblobaper*

    ninggal jejak ya bang, salam kenal http://vakansee.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, jangan baper sob..

      salam kenal juga.

      Delete
  6. Epic banget langit mendung tapi lautnya biru terang keren bangeett ngeet endeus daah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mendungnya ganggu bgt huhu.. Tapi masih terlihat menakjubkan :D

      Delete