Wednesday, August 9, 2017

Merasakan Atmosfer Ranah Minang Tempo Dulu di Kawasan Saribu Rumah Gadang



Atap-atap gonjong rumah gadang terlihat berjejer dari atas surau menara, surau tua yang tetap gagah berdiri, tak lekang oleh waktu. Perbukitan yang hijau juga cantik menjadi background pemandangan kawasan ini. Bila mau, para penari siap untuk menyambut para tamu dengan tari-tarian khas Solok Selatan. Tak hanya mata yang dimanjakan oleh suasana tradisional dengan ratusan rumah gadang di sini. Namun, lidah pun tak luput dari rasa nikmat masakan minang dan kudapan khas Solok Selatan. Tak lupa, sensasi menginap di dalam rumah gadang pun akan melengkapi momen-momen langka ini, dan mungkin hanya dapat dinikmati di sini, Kawasan Saribu Rumah Gadang, Solok Selatan.

Perjalanan menuju Kawasan Saribu Rumah Gadang

Dedet memelankan kendaraan saat suara adzan memanggil setiap lelaki muslim Jumat siang itu.. Tak jauh dari tugu penyambut kedatangan memasuki Solok Selatan, kami berhenti di sebuah masjid dekat pasar. Tak terasa sudah 4 jam perjalanan kami lalui lalui dari Kota Padang. 

Selepas sholat Jumat, kami menuju rumah makan sungai kalu yang berada tepat di seberang masjid.. Rumah makan yang menyajikan masakan khas minang ini musti dicoba kalau kalian pergi ke Solok Selatan. Menu baluik lado hijau (belut sambal hijau) yang merupakan salah satu masakan minang favorit gue akhirnya mengisi perut yang mulai mengosong ini.

Sampai di Muara Labuh, kami segera menuju ke Kawasan Saribu Rumah Gadang. Kawasan yang berkali-kali gue lewatin saat tugas ke Solok Selatan namun baru di kesempatan kali ini gue bisa berkenalan dengan tempat ini. Di kawasan ini juga kami, blogger palanta, akan menginap sebelum menjelajah Solok Selatan keesokan harinya.

Merasakan menjadi orang minang di Kawasan SRG

Kawasan Saribu Rumah Gadang merupakan salah satu andalan wisata Solok Selatan yang kaya akan keunikan budaya masyarakat Minangkabau. Walau tidak semuanya, namun sebagian besar rumah di sini adalah rumah gadang. Terdapat sekitar 130 rumah gadang yang juga ditinggali oleh penghuninya, dan 10 diantaranya sudah ditetapkan sebagai homestay untuk para tamu.




Kami berkunjung kesini tak hanya untuk sekedar melihat-lihat kawasan tradisional yang dipenuhi rumah beratapkan gonjong ini. Lebih dari itu, kami beruntung diberi kesempatan untuk menginap di salah satu rumah gadang. Rumah gadang yang kami tempati adalah homestay no. 002 kepunyaan Uni Iin. Wah, gimana rasanya yaa??

Pangek Pisang
Memasuki rumah gadang Uni Iin, terdapat ruangan yang cukup luas. Sisi sebelah kanan diisi dengan kursi-kursi dan lemari kayu. Sisi sebelah kiri merupakan ruangan lapang. Di bagian belakang, terdapat 3 kamar tidur. Sedangkan dapur dan kamar mandi terletak di belakang rumah gadang. Lalu di manakah kami tidur? Bukan di kamar-kamarnya, melainkan tidur bersama di ruangan yang lapang tersebut, yang telah dilengkapi dengan kasur untuk 8 orang.


Pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, kami langsung disambut dengan sajian khas Solok Selatan yang menggugah selera. Sebuah kudapan bernama Pangek Pisang, yang disajikan bersama dengan ketan hitam. Rasanya??? Enaaak,, selain buat cemilan sore, bisa juga untuk makanan pembuka maupun penutup makan besar...

Selepas menikmati sajian pangek pisang, kami berkeliling melihat-lihat kawasan ini. Suasananya minang banget, karena mayoritas rumah di sini adalah rumah gadang lengkap dengan rangkiang nya. Rangkiang adalah bangunan di depan rumah gadang yang berfungsi untuk menyimpan padi hasil panen.

Rumah gadang gajah maram

Dari sekian banyak rumah gadang yang kami jumpai saat itu, ada 1 yang paling terkenal dan selalu jadi tempat berfoto siapapun yang berkunjung kemari, yakni rumah gadang gajah maram. Rumah gadang ini cukup megah dibanding rumah gadang lain di kawasan ini. Selain itu, rumah gadang ini pernah muncul beberapa kali di layar kaca, dan yang paling terkenal adalah karena pernah menjadi setting film Di Bawah Lindungan Kabah.



Sambil melihat-lihat rumah gadang lainnya, kami bertolak menuju Surau Menara. Surau ini dibangun pada tahun 1900. Surau ini banyak menggunakan material kayu. Di tengah-tengah bangunannya terdapat menara. Jaman dahulu, menara ini digunakan untuk melakukan panggilan adzan atau menginformasikan hal-hal penting kepada masyarakat sekitar. Untuk mencapai puncaknya, tersedia tangga dari kayu yang dilapisi triplek. View dari puncak menara ini sangat memukau, terlihat kumpulan gonjong yang mengelilingi kawasan ini, dengan latar belakang perbukitan yang hijau oleh pepohonan.
Jam makan malam tiba, kami disuguhi Makan Bajamba dengan masakan minang. Makan bajamba adalah sebuah prosesi makan bersama dalam adat minangkabau. Sayang, waktu itu tak lengkap karena tak ada sahut-sahutan pantun seperti yang pernah gue tonton saat lomba makan bajamba di kantor.

Makan bajamba.. Photo by: Dedet (?)


 Badan dijalari oleh hawa dingin pagi itu. Gue terbangun dan melihat Ubay sedang menyiapkan kameranya. "Yuk hunting sunset bang", ucapnya.. Gue coba bangkit dan melangkah keluar rumah.. Brrrr ternyata di luar lebih dingin. "Wah enggak deh Bay, dingin banget :D", sambil kembali ke kasur, lalu menutup badan dengan selimut.

Cahaya sinar matahari perlahan masuk melalui jendela-jendela yang terbuka, hari semakin terasa hangat. Pagi itu, kami dihidangkan lontong gulai yang disajikan bersama dengan bakwan dan ditutup dengan pisang sebagai pencuci mulut. Selepas mandi dan sarapan, kami memulai petualangan menjelajah keindahan Solok Selatan.

Malam kembali menyambut saat kami pulang menuju rumah gadang. Makan malam kali ini, kami dihidangkan Makan Gadang yang disajikan di atas daun pisang yang besar, tentu dengan sajian masakan minang (masakan padang kalau menurut orang luar minangkabau mah :V ). "Yang tersaji di depan kita harus dihabiskan lho", celetuk Titi.. Gue langsung pesimis melihat porsi yang tersaji di depan gue. Ini mah kalau buat gue sendiri aja setara dengan 3x makan biasanya.. Padahal gue udah mengambil posisi pojok yang porsinya tidak sebanyak yang di tengah.. "Ayo jatah masing-masing sebanyak 2 jengkal", entah siapa yang nyeletuk..

Makan Gadang. Photo by: (?)


Sedikit demi sedikit makanan berpindah dari atas daun pisang ke dalam perut kami masing-masing.. Gue nyerah, begitu pun Ubay yang duduk di sebelah gue.. Di sebelah kiri Ubay, Nanda dan Dedet kompak bekerjasama menghabiskan apa yang tersaji di depan mereka,, dan luar biasanya mereka mampu menghabiskan porsi makan sebanyak itu. Emen dan Titi sedang berusaha menghabiskan sisa-sisa makanan yang menjadi "kewajibannya". Dan yang luar biasa adalah Rozi yang berjuang sendiri melawan makanan porsi jumbo. Badan boleh kurus, tapi urusan menghabiskan makanan, Rozi jagonya..

Nasi dan lauk pauk masih banyak tersisa. Kami menantikan bala bantuan Uda Nofrins dan Bang Firza. Setelah ditunggu-tunggu, mereka pun datang. Eeeh tapi tiba-tiba Uni Iin kembali menuangkan nasi di depan gue dan Ubay.. Huwaaaaaa... #KibarBenderaPutih

Malam itu, kami pun tertidur kembali. Terlelap dengan nyenyak di bawah gonjong. Di dalam rumah tradisional suku minangkabau yang saat kecil dulu hanya bisa gue lihat lewat gambar, rumah gadang.


Pagi kedua, Ubay kembali mengajak berburu sunrise. Namun kembali raga ini terasa tak sanggup berjuang melawan hawa dingin di luar rumah. Ketika dingin perlahan mulai menghilang, gue pun mulai beranjak dan melawan sisa-sisa dingin yang masih tersisa. Bersama Ubay dan Emen, kami bertiga berjalan-jalan melihat suasana pagi di kawasan ini. Sang mentari mulai terbangun, mengubah gelap menjadi terang, mengubah dingin menjadi hangat. Pagi di kawasan saribu rumah gadang terasa syahdu.

Indahnya gonjong dalam siluet pagi


Tidur di rumah gadang, makan kudapan minang, makan bajamba dan makan gadang dengan masakan minang, dan berada di suasana kawasan tradisional minangkabau. Menjadikan setiap pengunjung yang datang kesini seolah melakukan perjalanan melintasi waktu, merasakan atmosfer ranah minang tempo dulu.

#AyoKeSolsel #PesonaSolsel
------------------------

FYI:
- Untuk booking homestay, hubungi 0823-8232-6674 (Elsa) dan 0813-7451-4030 (Feri).
- Tarif menginap Rp250.000/malam/orang, termasuk sarapan serta makan malam.
- Kawasan Saribu Rumah Gadang berada di Kota Muara Labuh.
- Perjalanan dari Kota Padang ke Muara Labuh sekitar 4 jam perjalanan, atau 1 jam lebih cepat sebelum sampai ibukota Solsel di Padang Aro.
- Dari arah Padang, lokasi kawasan ini berada di sebelah kanan, tepat di pinggir jalan.
- Terdapat plang ukuran besar bertuliskan "Kawasan Saribu Rumah Gadang".
- Terdapat 10 rumah gadang yang dijadikan sebagai homestay untuk wisatawan.
- Untuk menu sarapan dan makan malam, kalian bisa request menunya sehari sebelumnya.
- Muara Labuh terasa panas di siang hari, dan berangsur-angsur dingin saat dinihari.. Namun, berada di dalam rumah gadang saat siang tak sepanas di luar ruangan. Begitupun saat menjelang pagi, terasa tak sedingin di luar. 

Tips:
Bawa handuk dan alat mandi sendiri karena di rumah gadang tempat kita menginap tidak disediakan.

Fasilitas sekitar lokasi:
Karena lokasinya berada di tengah kota, mudah untuk mencari berbagai perlengkapan sehari-hari. 

P.S.
Saat kecil, hanya dalam gambar gue melihat rumah-rumah tradisional dari berbagai penjuru Indonesia. Beranjak dewasa, gue berkesempatan melihat secara langsung beberapa rumah tradisional dari beberapa daerah. Namun, pengalaman bermalam di rumah tradisional baru kali ini gue rasakan. Di sini, di dalam rumah tradisional minangkabau, di Kawasan Saribu Rumah Gadang, Solok Selatan.

 ---------------------------
Follow me on IG: @barra_baa
---------------------------
 
Spot lain yang gue kunjungi di Solok Selatan:
"Terbenam" Dalam Keelokan Goa Batu Kapal, Solok Selatan
Perpaduan Unik Air Terjun Kembar dan Bunga Bangkai 

Kunjungi juga cerita perjalanan ke Solsel temen-temen blogger palanta:



Muhammad Irfan (Emen)






Bayu Haryanto (Ubay) 





Fadhlan Yunanda (Nanda)






Dedet Saugia (Dedet)





Sitty Amelia (Titi)



Fakhrozi (Rozi) 


--------------

Traveler Paruh Waktu

--------------


11 comments:

  1. Mantap da. ada yg kurang​ kemaren tu jalan2 pagi nya hahaha

    ReplyDelete
  2. Keren! Negeri kita mmg kaya akan budaya. Selalu indah menikmatinya, dari manapun sudutnya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat para pecinta jalan2.. pasti beruntung bgt tinggal di negara kita ini :D.

      Terimakasih sudah berkunjung.. :)

      Delete
  3. Jadi pengen awak kesitu... lahir dan besar di bukittinggi tapi sumbar tau nya cuman Padang, Bukittinggi, Tanah Datar, Payakumbuh, Agam...

    padahal Sumatera Barat masih luas banget..

    Btw, salam kenal uda, singgahlah ka rumah wak :
    www.penikmatnafas.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah,, sayang banget kalau cuma jelajahi sekitar Bukittinggi aja.. Ayo jelajahi juga wilayah Sumbar lainnya..

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Solok Selatan memang mempesona ya, suatu waktu harus menelusur ke sana nih.
    Makanannya ampun deh, sepertinya harus sedia ruang lebih lega di perut :)

    Terima kasih sudah berbagi.

    Kalau ada waktu tengok ke sini, Oom:
    https://www.jelajahlangkah.wordpress.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastikan siangnya banyak aktivitas sebelum makan malam dg menu super banyak ini ahaha..

      ayo ke solsel..

      Delete
  6. Aduh sayang kemarin ga sempet keseni, cuma explore di daerah jam gadang dan mandeh.
    Ngeliat banyak rumah gadang jadi pengen tinggal disana dan mendengar sejarahnya langsung

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah sayang sekali yah.. padahal Sumbar bukan hanya jam gadang dan kawasan mandeh saja lho, hehe..

      ayo datang lagi :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...